Saturday, May 7, 2011

Berterima kasihlah pada Musuh

Dimusuhi, dibenci, dicaci, difitnah atau diperangi. Tak ada manusia yang suka dengan suasana hidup seperti ini. kerananya, di antara perjalanan hidup yang paling buruk adalah saat kita melewati proses hidup yang melahirkan musuh, mendatangkan kebencian, mengundang caci maki, atau mengobarkan perang. Masalahnya, perjalanan hidup ini mengajarkan bahawa dimusuhi, dibenci, dicaci dan segala bentuknya juga mempunyai hikmah.

Saudaraku,

Bersikap baik, berkomitmen dengan yang baik, berusaha sekuat tenaga berada di pihak yang kita yakin kebenarannya, tidak lantas mengalirkan kebencian, permusuhan, pertentangan dengan pihak lain. Akan tetapi ada situasi yang menjadikan kita objek kebencian, fitnah, hingga caci maki dan permusuhan. Disinilah kita pperlu menggunakan seni kehidupan untuk mampu mengharungi situasi ini dengan tetap memetik manfaat dari kebencian dan permusuhan. Seperti seorang ulama Saudi, Salman bin Fahd Al-Audah, menuliskan artikel yang bertajuk, "Syukran Ayyuha Al A'daa" (Terima kasih wahai musuh). Lihatlah bagaimana ia memaparkan manfaat musuh yang melakukan kezaliman ke atas dirinya.

Pertama ia tuliskan, "Terima kasih wahai musuh, Kalianlah yang menjadikan ku sedar untuk mengendalikan diri dan tidak hanyut dalam gelombang pujian. Kalian dijadikan Allah SWT agar aku tidak menjadi sombong akibat pujian yang berlebihan, atau anggapan baik yang hanya melihat kebaikan pada diriku..

Kedua, "Terima kasih wahai musuh. Bagaimana kalian memberikan manfaat kepadaku, meskipun sebenarnya, kalian tidak mahu melakukan perkara tersebut. kalian telah menciptakan kemampuan untuk berfikir lebih seimbang dan adil. Mungkin ada seseorang yang berlebihan menunaikan haknya, lalu kalianlah yang menjadi sebab keseimbangan.

Ketiga, "Terima kasih wahai musuh..kalianlah yang menerbitkan semangat, meletakkan tentangan, membuka kecermatan, mendorong untuk berkompeten, agar seseorang lebih berhati-hati, lebih berdisiplin, lebih cermat mendidik diri, dan menghiasi diri untuk memiliki sikap terpuji. Berlumba dan berkompeten dalam kebaikan adalah sikap yang dianjurkan di dalam Islam.

Keempat, "Terima kasih wahai musuh..kalianlah yang melatih kami untuk mampu bersabar dan lebih berkuasa menanggung beban. kalianlah yang membantu kami untuk menghadapi keburukan dengan kebaikan.

Kelima, "Terima kasih wahai musuh. Mungkin dalam timbangan amal ada kebaikan yang tidak mampu kami peroleh hanya dengan kebaikan dan amal soleh, tapi hanya boleh diperoleh melalui kesabaran, menanggung beban, keredhaan, boleh menerima, toleransi dan maaf.

Keenam, "Terima kasih wahai musuh..Aku merasa mungkin ada sebahagian kata yang menyakiti kalian. tapi sungguh aku tidak bermaksud menyakiti kalian. Tapi aku katakan dengan sejujurnya, kalian adalah teman-teman sejati"

Sumber : Muhammad Nursani

No comments:

Post a Comment